Alasan Untuk Mendaki Gunung
Pasti banyak diantara kita yang kebingungan ketika
ditanya alasan kenapa mau naik gunung. Bermacam-macam pertanyaan sering kita
dengar seperti: kan naik gunung itu bahaya, mau kaya Dora the explorer ya biar
di bilang kekinian naik gunung atau yang paling parah mau cari pesugihan ya di
gunung (oke, mungkin ini cuma saya aja yang pernah ditanya beginian). Ya itu
beberapa kata-kata yang sering kita dengar dari orang lain tentang gunung. Nah
karena seringnya saya mendengar pertanyaan kenapa mau mendaki gunung, maka saya
menyimpulkan ada beberapa alasannya:
Alasan yang pertama, untuk hobi atau kepuasan pribadi
dan memang alasan semua para pendaki pemula adalah ini. Para pendaki gunung ini
biasanya mendaki untuk mencari alternatif berlibur yang baru, mengisi waktu
senggang, ikut-ikutan teman atau menghilangkan rasa bosan. Biasanya orang-orang
ini memilih untuk mendaki gunung agar dapat merasakan udara segar, menikmati
pemandangan alam, atau sekedar merasakan sensasi berkemah bersama teman-teman.
Sampai di puncak bukanlah tujuan utama karena yang menjadi prioritas adalah
bersenang-senang.Yang kedua, tujuan mendaki gunung adalah untuk mendapatkan
pengakuan dari orang lain. Yak sesuai dari tujuannya mendaki, pendaki ini
menjadikan puncak sebagai tujuan utama. Para pendaki ini sudah pasti memiliki
keteguhan hati dan kemauan yang besar. Keteguhan hati untuk selalu memandang ke
atas puncak gunung dan tidak akan berhenti sebelum sampai di puncak juga
kemauan yang besar untuk selalu menyelesaikan langkahnya hingga di puncak.
Mereka memiliki anggapan semakin banyak puncak gunung yang ditaklukkan, maka
kebanggaan akan meningkat pula. Ya walaupun sebagian besar menganggap pendaki
ini sebgai orang yang sombong.
Mendaki untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu
pengetahuan, orang-orang yang memiliki tujuan ini bukan hanya pendaki gunung
atau sebagai petualang saja, tetapi para expert yang memiliki tujuan dalam
penelitian mereka. Mereka ini, biasanya tidak peduli dengan yang namanya
pengakuan dari orang lain atau bahkan nyawa mereka sendiri. Pendaki ini
biasanya memiliki tujuan seperti meneliti bekas erupsi gunung atau meneliti
populasi flora atau fauna di suatu ekosistem, atau pun orang-orang yang ingin
membuka jalan pendakian. Dan untuk orang-orang ini, “U da real MVP” gaes.
Selanjutnya adalah orang mendaki gunung untuk
keperluan pelestarian alam atau misi penyelamatan. Pendaki ini biasanya berasal
dari para komunitas pecinta alam (Pecinta alam dalam konteks yang sebenarnya),
Tim SAR atau polisi hutan. Mereka mendaki gunung bukan hanya sekedar
bersenang-senang saja tetapi untuk menjalankan kewajiban atau panggilan hati
mereka yaitu melestarikan alam, mereboisasi gunung yang habis terbakar,
bersih-bersih gunung, membuka atau menutup jalur bagi para pendaki agar para
pendaki lainnya tidak tersesat, mencari pendaki yang hilang, serta para polisi
hutan yang mendaki demi menjaga hutan dari kebakaran atau memburu penebang dan
pemburu liar.
Dan yang terakhir adalah mendaki karena panggilan
jiwa. Orang-orang ini orang yang mampu berguru pada alam. Mereka mendaki untuk
menyendiri dari keramaian serta mencari kedamaian dan pencerahan dari Tuhan.
Biasanya orang yang mendaki untuk tujuan ini adalah seorang pertapa yang
memilih untuk menyendiri dalam waktu yang lama sampai mendapat pencerahan atau
ilmu. (ilmu di sini bukanlah ilmu pesugihan atau ilmu kebal terhadap rasa malu
namun ilmu tentang arti hidup yang sebenarnya). Kebanyakan para pendaki yang
sudah cukup berpengalaman biasanya mendaki gunung untuk tujuan seperti ini.
Mereka mendaki gunung bukan lagi untuk hobi atau mengejar prestise, tetapi
mereka mendaki karena “panggilan jiwa” yang harus terus dipenuhi. Mereka seolah
tak bisa hidup jauh dari gunung. Meskipun telah lama tidak mendaki gunung,
namun keinginan untuk mendaki itu pasti akan tetap ada karena sudah menjadi
kebutuhan. Mereka meyakini bahwa ada banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari
mendaki gunung. Dengan mengakrabi alam, maka dengan sendirinya alam akan
mengajarkan banyak ilmu kepada kita.
Jadi, jelas bahwa gunung adalah media untuk menempa
pribadi manusia sebelum akhirnya mendapatkan ilmu yang berasal dari
Tuhan.
Ilmu yang tak terbatas dan tidak bisa didapatkan hanya
dari sekolah atau kuliah saja.
Ilmu apakah itu?
Ilmu tentang “hakikat diri dan Pemahaman akan arti
kehidupan”.
Bagaimana cara memahaminya?
Salah satu caranya adalah dengan “Banyak mendaki
gunung”.
“Kami jelaskan
apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang
tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan
slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia
mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan
mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat
dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami
naik gunung.”
Soe Hok Gie,
Catatan Seorang Demonstran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar