Jumat, 13 Januari 2017

Kenapa Mendaki Gunung? Apa tujuannya?

Alasan Untuk Mendaki Gunung
Pasti banyak diantara kita yang kebingungan ketika ditanya alasan kenapa mau naik gunung. Bermacam-macam pertanyaan sering kita dengar seperti: kan naik gunung itu bahaya, mau kaya Dora the explorer ya biar di bilang kekinian naik gunung atau yang paling parah mau cari pesugihan ya di gunung (oke, mungkin ini cuma saya aja yang pernah ditanya beginian). Ya itu beberapa kata-kata yang sering kita dengar dari orang lain tentang gunung. Nah karena seringnya saya mendengar pertanyaan kenapa mau mendaki gunung, maka saya menyimpulkan ada beberapa alasannya:



Alasan yang pertama, untuk hobi atau kepuasan pribadi dan memang alasan semua para pendaki pemula adalah ini. Para pendaki gunung ini biasanya mendaki untuk mencari alternatif berlibur yang baru, mengisi waktu senggang, ikut-ikutan teman atau menghilangkan rasa bosan. Biasanya orang-orang ini memilih untuk mendaki gunung agar dapat merasakan udara segar, menikmati pemandangan alam, atau sekedar merasakan sensasi berkemah bersama teman-teman. Sampai di puncak bukanlah tujuan utama karena yang menjadi prioritas adalah bersenang-senang.Yang kedua, tujuan mendaki gunung adalah untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Yak sesuai dari tujuannya mendaki, pendaki ini menjadikan puncak sebagai tujuan utama. Para pendaki ini sudah pasti memiliki keteguhan hati dan kemauan yang besar. Keteguhan hati untuk selalu memandang ke atas puncak gunung dan tidak akan berhenti sebelum sampai di puncak juga kemauan yang besar untuk selalu menyelesaikan langkahnya hingga di puncak. Mereka memiliki anggapan semakin banyak puncak gunung yang ditaklukkan, maka kebanggaan akan meningkat pula. Ya walaupun sebagian besar menganggap pendaki ini sebgai orang yang sombong.



Mendaki untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu pengetahuan, orang-orang yang memiliki tujuan ini bukan hanya pendaki gunung atau sebagai petualang saja, tetapi para expert yang memiliki tujuan dalam penelitian mereka. Mereka ini, biasanya tidak peduli dengan yang namanya pengakuan dari orang lain atau bahkan nyawa mereka sendiri. Pendaki ini biasanya memiliki tujuan seperti meneliti bekas erupsi gunung atau meneliti populasi flora atau fauna di suatu ekosistem, atau pun orang-orang yang ingin membuka jalan pendakian. Dan untuk orang-orang ini, “U da real MVP” gaes.



Selanjutnya adalah orang mendaki gunung untuk keperluan pelestarian alam atau misi penyelamatan. Pendaki ini biasanya berasal dari para komunitas pecinta alam (Pecinta alam dalam konteks yang sebenarnya), Tim SAR atau polisi hutan. Mereka mendaki gunung bukan hanya sekedar bersenang-senang saja tetapi untuk menjalankan kewajiban atau panggilan hati mereka yaitu melestarikan alam, mereboisasi gunung yang habis terbakar, bersih-bersih gunung, membuka atau menutup jalur bagi para pendaki agar para pendaki lainnya tidak tersesat, mencari pendaki yang hilang, serta para polisi hutan yang mendaki demi menjaga hutan dari kebakaran atau memburu penebang dan pemburu liar.



Dan yang terakhir adalah mendaki karena panggilan jiwa. Orang-orang ini orang yang mampu berguru pada alam. Mereka mendaki untuk menyendiri dari keramaian serta mencari kedamaian dan pencerahan dari Tuhan. Biasanya orang yang mendaki untuk tujuan ini adalah seorang pertapa yang memilih untuk menyendiri dalam waktu yang lama sampai mendapat pencerahan atau ilmu. (ilmu di sini bukanlah ilmu pesugihan atau ilmu kebal terhadap rasa malu namun ilmu tentang arti hidup yang sebenarnya). Kebanyakan para pendaki yang sudah cukup berpengalaman biasanya mendaki gunung untuk tujuan seperti ini. Mereka mendaki gunung bukan lagi untuk hobi atau mengejar prestise, tetapi mereka mendaki karena “panggilan jiwa” yang harus terus dipenuhi. Mereka seolah tak bisa hidup jauh dari gunung. Meskipun telah lama tidak mendaki gunung, namun keinginan untuk mendaki itu pasti akan tetap ada karena sudah menjadi kebutuhan. Mereka meyakini bahwa ada banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari mendaki gunung. Dengan mengakrabi alam, maka dengan sendirinya alam akan mengajarkan banyak ilmu kepada kita.




Jadi, jelas bahwa gunung adalah media untuk menempa pribadi manusia sebelum akhirnya mendapatkan ilmu yang berasal dari Tuhan. 
Ilmu yang tak terbatas dan tidak bisa didapatkan hanya dari sekolah atau kuliah saja.
Ilmu apakah itu?
Ilmu tentang “hakikat diri dan Pemahaman akan arti kehidupan”.
Bagaimana cara memahaminya?
Salah satu caranya adalah dengan “Banyak mendaki gunung”.




“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” 


Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar